Seminar Nasional IAEI Komisariat Universitas YARSI menghadirkan sejumlah pemaparan strategis seputar arah ekonomi syariah Indonesia yang dilaksanakan pada Rabu, 20 Mei 2026 di Auditorium Al-Quddus, lantai 12, Universitas Yarsi. IAEI menghadirkan salah satu narasumber, yaitu Prof. Dr. Nurul Huda, S.E., M.M., M.Si., Wakil Ketua Bidang Pengembangan Akademik, Kurikulum, dan Akreditasi, yang juga menjabat sebagai Wakil Rektor IV Universitas YARSI. Dalam kesempatan tersebut, beliau mengupas tuntas potensi dan tantangan wakaf sebagai instrumen strategis penggerak ekonomi umat di Indonesia.
Beliau membuka pembahasan dengan memaparkan besarnya potensi wakaf nasional yang sayangnya realisasinya masih jauh dari optimal. Data menunjukkan bahwa aset wakaf nasional saat ini mencatat 435.768 titik lokasi, dan hingga April 2026, telah terdapat 366.595 sertifikasi tanah wakaf dengan total luas mencapai 277.203 hektar. Berdasarkan hasil analisis, Indonesia bahkan tercatat memiliki aset wakaf terbesar di dunia Islam. Namun dibalik besarnya angka tersebut, masih terdapat risiko serius berupa sengketa hukum, idle asset, serta rendahnya produktivitas aset wakaf yang ada.
"Sayangnya, dengan potensi aset wakaf yang begitu besar, dominan 65% masih dalam bentuk masjid dan musholla," ungkap Prof. Nurul Huda, sehingga wakaf belum optimal berkontribusi sebagai penggerak pertumbuhan ekonomi umat. Lebih jauh, beliau menyampaikan bahwa potensi aset wakaf nasional berada di atas Rp2.000 triliun, dengan wakaf uang yang berpotensi melebihi Rp180 triliun. Namun hingga saat ini, realisasi wakaf uang baru mencapai Rp3,3 triliun pada tahun 2025, hanya sekitar 1,6% dari potensi nasional yang sesungguhnya. "Ketika diintegrasikan antara keuangan syariah yang bersifat komersil dan sosial, sebenarnya impact-nya sangat besar," tegasnya.
Dalam seminar yang sama, Mohammad Nuryazidi, Ph.D., Analis Eksekutif Departemen Ekonomi dan Keuangan Syariah (DEKS) Bank Indonesia, turut menjadi narasumber dan memaparkan posisi Indonesia di peta ekonomi syariah global beserta strategi yang tengah dijalankan oleh Bank Indonesia.
Nuryazidi menyoroti capaian Indonesia berdasarkan State of the Global Islamic Economy (SGIE), di mana Indonesia berhasil menempati peringkat ketiga dunia di bawah Malaysia dan Arab Saudi, dengan segmen modest fashion bahkan bertengger di posisi pertama. "Tekstil kita itu cukup digemari, karena ide-idenya bagus. Made in Indonesia di tekstil itu memang sangat dihormati dan digemari oleh konsumen dunia," ujarnya.
Namun ambisi menjadi nomor satu di ekonomi syariah global harus berhadapan dengan kondisi dunia yang sedang tidak mudah. Nuryazidi memaparkan sejumlah data yang mencerminkan dinamika global terkini, mulai dari lalu lintas kapal di Selat Hormuz yang menurun drastis, harga minyak yang terus merangkak naik, hingga proyeksi pertumbuhan ekonomi global yang direvisi ke bawah menjadi 3,0 persen. "Artinya, kita semangat menjadi nomor satu, tapi tantangan dari segi global memang cukup besar," kata beliau.
Meski demikian, kondisi domestik memberikan sinyal yang lebih menggembirakan. Halal Value Chain (HVC) Indonesia tercatat tumbuh sebesar 6,21%, produk-produk bersertifikasi halal menunjukkan pertumbuhan yang konsisten, dan perbankan syariah yang sempat mengalami perlambatan berhasil kembali menguat pada triwulan akhir 2025. "Walaupun secara global cukup menantang, tapi dari segi ekonomi syariah kita cukup kuat. Namun memang perlu usaha yang lebih besar lagi," tegasnya.
Bank Indonesia sendiri menopang arah ini melalui tiga pilar kebijakan ekonomi dan keuangan syariah, yakni pengembangan HVC yang berdaya saing global, optimalisasi sinergi antar lembaga, serta peningkatan inklusi dan literasi ekonomi syariah. Di sisi literasi, Nuryazidi mencatat adanya kesenjangan yang perlu diperhatikan. "Literasi kita sudah cukup baik, sekitar 56 persen. Tapi inklusinya hanya 13 persen," ungkapnya. Untuk menjawab tantangan tersebut, Bank Indonesia telah menyiapkan enam inisiatif strategis perbankan syariah, yakni Gerbang Santri, Jawara Ekspor, Gema Halal, Sapa Syariah, Kanal Ziswaf, dan Lentera Emas, demi mewujudkan Indonesia sebagai pusat ekonomi dan keuangan syariah dunia.
Seminar Nasional ini menjadi ruang yang mempertemukan perspektif akademik, kelembagaan, dan kebijakan dalam satu panggung. Melalui pemaparan Prof. Dr. Nurul Huda yang mengupas besarnya potensi wakaf yang belum tergarap secara optimal, hingga paparan Bank Indonesia yang memetakan tantangan dan strategi ekonomi syariah di tingkat global, dapat disimpulkan bahwa Indonesia memiliki modal yang luar biasa besar, namun membutuhkan sinergi yang lebih erat antara seluruh pemangku kepentingan untuk mengubah potensi tersebut menjadi kekuatan nyata. IAEI sebagai wadah intelektual ekonomi Islam menegaskan komitmennya untuk terus mendorong lahirnya gagasan, kebijakan, dan gerakan yang relevan, serta berdampak langsung bagi pertumbuhan ekonomi umat dan kemajuan ekonomi syariah Indonesia di panggung dunia.



