Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Prof. Arif Satria, hadir sebagai pembicara kunci pada Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Ikatan Ahli Ekonomi Islam Indonesia (IAEI) pada Jumat (28/11) di Ballroom The Ritz-Carlton Jakarta. Kepala BRIN bicara pada sesi prominent scholar, membahas Penguatan Riset sebagai Fondasi Pertumbuhan Ekonomi Syariah. Dalam paparannya, BRIN menjelaskan pentingnya riset, teknologi, dan inovasi sebagai penggerak utama peningkatan daya saing ekonomi syariah Indonesia.
Prof Arif Satria dalam paparannya, menyampaikan bahwa transformasi menuju Innovation Driven Economy tidak dapat dilepaskan dari peningkatan kualitas sumber daya manusia, investasi riset, dan penciptaan teknologi baru. Ia menekankan bahwa berbagai indikator Global Innovation Index (GII) Indonesia menunjukkan perbaikan signifikan dalam belanja riset swasta, investasi R&D asing, hingga peningkatan paten domestik pada periode 2021–2025.
“Data global menunjukkan korelasi kuat antara indeks inovasi dan pertumbuhan ekonomi. Artinya, riset bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan untuk mencapai lompatan ekonomi,” jelasnya, merujuk pada teori pertumbuhan endogen Paul Romer.
Untuk mendukung berkembangnya ekonomi syariah, BRIN memaparkan empat arah kebijakan besar riset nasional, mulai dari penguatan kapasitas SDM Iptek dan tata kelola infrastruktur riset; kemitraan multipihak untuk pendanaan riset dan inovasi; intermediasi riset melalui KST, hub tematik, dan jejaring inovasi; dan Hilirisasi dan komersialisasi luas hasil riset.
Kebijakan tersebut didesain untuk menjawab tantangan ekonomi halal, mulai dari pangan, kesehatan, energi, hingga penguatan ekonomi berbasis pengetahuan. BRIN juga mengoptimalkan peran Kawasan Sains dan Teknologi (KST) serta Pusat Kolaborasi Riset (PKR) sebagai simpul inovasi di berbagai daerah.
Berdasarkan laporan State of Global Islamic Economy (SGIE) 2024/2025, Indonesia kini menempati peringkat ketiga ekosistem ekonomi Islam global dan menargetkan posisi pertama pada 2029. Sektor-sektor unggulan seperti busana muslim, pariwisata ramah muslim, farmasi, kosmetik halal, dan makanan halal terus menunjukkan performa kuat.
Dalam forum Rakernas, BRIN menampilkan sejumlah inovasi strategis, di antaranya perangkat deteksi kehalalan dan kesegaran pangan berbasis sensor cepat; Food Saver Plasma, sebuah teknologi pengawetan pangan hemat energi tanpa bahan kimia; dan Electron Beam Machine, fasilitas iradiasi modern yang memperpanjang umur simpan pangan dan mendukung ekspor. Teknologi-teknologi tersebut telah memperoleh paten atau sedang dalam proses pematenan, dan menjadi komponen penting dalam rantai pasok industri halal.
BRIN menegaskan komitmen untuk memperkuat kolaborasi dengan IAEI dan KNEKS, khususnya dalam penyusunan Peta Jalan Riset Ekonomi dan Keuangan Syariah. IAEI memandang kontribusi BRIN sebagai bagian penting dalam upaya memperkuat arsitektur ekonomi Islam nasional. Rakernas menjadi ruang konsolidasi strategis untuk menyinergikan hasil riset, rekomendasi kebijakan, dan langkah hilirisasi inovasi agar ekonomi syariah Indonesia semakin berdaya saing global.


