Dewan Pimpinan Pusat Ikatan Ahli Ekonomi Islam Indonesia (IAEI) menilai kesenjangan kompetensi dan kebutuhan industri masih menjadi tantangan utama dalam pengembangan sumber daya manusia (SDM) ekonomi dan keuangan syariah di Indonesia. Dari lebih dari 900 program studi ekonomi syariah di Indonesia yang menghasilkan puluhan ribu lulusan setiap tahun, industri disebut baru menyerap sekitar 10–15 persen lulusan. Hal tersebut disampaikan Ketua Bidang Pengembangan SDM Ekonomi dan Keuangan Syariah, Prof. Euis Amalia dalam Webinar Ready to Compete: SDM Ekonomi Syariah Indonesia di Tengah Persaingan Global, yang diselenggarakan secara daring melalui Zoom, Selasa (1/9).
Menurut Prof. Euis Amalia, pengembangan industri ekonomi dan keuangan syariah harus berjalan beriringan dengan peningkatan kualitas SDM. Kesenjangan tersebut dipengaruhi mismatch antara kurikulum perguruan tinggi dan kebutuhan dunia kerja, yang masih perlu diperkuat mencakup soft skill, teknologi digital dan kecerdasan buatan (AI), kemampuan bahasa, serta pemahaman terhadap standar internasional di bidang banking and finance.
Prof. Euis menilai SDM ekonomi syariah ke depan perlu memiliki tiga kompetensi utama yang saling melengkapi. Pertama, kompetensi teknis dan digital; Kedua, wawasan global, terutama kemampuan memahami perkembangan dan standar internasional; Ketiga, integritas dan moralitas yang mencakup sikap amanah, kejujuran, serta orientasi kemaslahatan.
IAEI mendorong penguatan link and match antara perguruan tinggi dan industri, melalui penyusunan peta okupasi dan standar kompetensi kerja ekonomi syariah. “Link and match tidak berarti kampus harus tunduk sepenuhnya pada permintaan industri. Kampus tetap wajib menjaga marwah keilmuan, nalar kritis dan kedalaman fikih muamalah, sembari tetap responsif terhadap dinamika pasar,” tegas Prof. Euis.
Penguatan SDM merupakan bagian penting dari agenda pembangunan ekonomi syariah Indonesia. Karena itu, kolaborasi antara perguruan tinggi, industri, regulator, asosiasi profesi, dan lembaga sertifikasi diperlukan agar lulusan ekonomi syariah tidak hanya memiliki pemahaman akademik, tetapi juga kompetensi yang relevan dengan kebutuhan industri dan mampu bersaing di tingkat global.



