Dalam upaya mendorong transformasi ekonomi syariah nasional melalui peran strategis komunitas global, Ikatan Ahli Ekonomi Islam Indonesia (IAEI) bersama Direktorat Pembiayaan Syariah Kementerian Keuangan dan Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) menyelenggarakan Webinar EKSYAR Diaspora-PPI bertajuk "Peran Strategis Diaspora dalam Mendorong Transformasi Ekonomi Syariah melalui Optimalisasi Investasi ST016 pada Tingkat Global dan Nasional," pada Rabu, 6 Mei 2026 di Auditorium DJPPR Kementerian Keuangan. Para pemangku kepentingan dari pemerintah, industri, akademisi, dan komunitas global sepakat bahwa Indonesia perlu "bermain lebih besar" secara global, mengingat posisi ketiga dunia dalam State of the Global Islamic Economy Report dinilai belum mencerminkan kekuatan riil negara ini.
Menyoroti urgensi tersebut, Murniati Mukhlisin selaku Ketua Bidang Komunikasi Strategis dan Kerjasama Internasional IAEI, menegaskan bahwa sukuk adalah instrumen inklusif yang dapat diakses berbagai profil investor. "Inovasi seperti green sukuk dan Cash Waqf Linked Sukuk (CWLS) memberikan alternatif investasi yang tidak hanya menguntungkan secara finansial, tetapi juga berdampak sosial," tegas Murniati.
Senada dengan itu, Sutan Emir Hidayat, Sekretaris Jenderal IAEI, mendorong diaspora untuk memanfaatkan kemudahan akses digital dalam berinvestasi secara konsisten. "Kami mendorong sinergi antara pemerintah, industri, dan komunitas global agar ekonomi syariah Indonesia mampu tampil sebagai kekuatan yang lebih kompetitif di tingkat dunia," ujar Sutan Emir.
Dari sisi kebijakan, Direktur Pembiayaan Syariah Kementerian Keuangan, Deni Ridwan menyoroti tantangan di mana inklusi keuangan Indonesia lebih tinggi dibanding literasinya. Beliau menekankan bahwa ST016 hadir sebagai instrumen yang aman, kompetitif, dan kini dapat diakses mulai Rp1 juta melalui perangkat pribadi. "Kami mengajak diaspora untuk mulai berinvestasi secara bertahap sebagai kontribusi nyata bagi pembangunan nasional," ujar Deni Ridwan.
Memperkuat perspektif global, Wempi Saputra selaku Executive Director of the World Bank Group sekaligus Ketua Komite Kerjasama Internasional IAEI, menegaskan peran strategis diaspora bertumpu pada tiga aspek utama: knowledge, networking, dan capital. "Ketiga aspek tersebut perlu didukung trust dan mekanisme akuntabilitas, termasuk melalui pendekatan ESG," tegas Wempi Saputra.
Merespons tantangan daya saing, Muhammad Iman Sastra, CEO Bank Syariah Matahari menilai visibilitas Indonesia di kancah keuangan syariah global belum optimal karena absennya big player yang dominan. "Sukuk adalah instrumen paling potensial untuk pembiayaan pembangunan, dan penguatan modal menjadi kunci agar inovasi terus berkembang," tegas Iman Sastra.
Tak hanya dari dalam negeri, perspektif investor global turut disampaikan oleh Harri Gemilang, Head of Financial Controlling Airbus Helicopters Arabia, yang menekankan bahwa trust adalah faktor penentu utama keputusan investasi. "ST016 memiliki positioning yang baik, namun penyampaian informasinya perlu dibuat lebih singkat, modern, dan didukung proses digital yang jelas," ujar Harri, seraya memperkenalkan Sah Savings Product Arab Saudi sebagai instrumen serupa.
Berbicara dari sudut pandang komunitas pelajar global, Andika Ibrahim Nasution, Koordinator PPI Dunia, menyatakan bahwa diaspora perlu bertransformasi dari sekadar audiens menjadi advocate aktif. "Ekonomi syariah harus diposisikan sebagai peluang global, bukan hanya produk domestik," tutup Andika. PPI Dunia pun siap mensosialisasikan investasi syariah Indonesia di forum-forum internasional di Asia, Eropa, hingga Amerika sepanjang tahun ini.
Forum ini menghasilkan rekomendasi strategis berupa penguatan kampanye berbasis komunitas diaspora, peningkatan kehadiran Indonesia dalam forum investasi global, serta penguatan tata kelola dan transparansi. Melalui kolaborasi lintas sektor yang semakin solid, Indonesia diharapkan mampu mempercepat langkah menuju pusat ekonomi syariah global yang inklusif dan berdaya saing tinggi.
-converted.jpg)



