• Tentang
  • Publikasi
  • Berita & Artikel
  • Program
  • Menjadi Member
  • id
    Loading...
    id
    Loading...
      Kembali ke daftar berita

      Bagikan

      IAEI Dorong Penguatan SDM dan Ekosistem untuk Wujudkan Indonesia Pusat Ekonomi Syariah Dunia

      Episode ini menegaskan pentingnya penguatan sumber daya manusia (SDM) dan ekosistem ekonomi syariah sebagai pilar utama dalam mewujudkan Indonesia sebagai pusat ekonomi syariah kelas dunia

      Secretariat

      Ditulis oleh Secretariat

      18 Maret 2026
      15 Mnt Baca

      Dewan Pimpinan Pusat Ikatan Ahli Ekonomi Islam Indonesia (IAEI) bekerjasama dengan Metro TV menyelenggarakan Program talkshow Top Economy Special: Islamic Economic yang tayang selama Ramadan mengangkat tema besar penguatan posisi Indonesia menuju pusat ekonomi syariah global. Pada episode yang tayang pada Selasa, 17 Maret 2026 pukul 21.05 WIB, ini menegaskan pentingnya penguatan sumber daya manusia (SDM) dan ekosistem ekonomi syariah sebagai pilar utama dalam mewujudkan Indonesia sebagai pusat ekonomi syariah kelas dunia.

      Berdasarkan laporan State of Global Islamic Economy 2025, Indonesia saat ini menempati peringkat ketiga dunia dalam ekonomi syariah global, yang menegaskan potensi besar sebagai pemain utama ekonomi syariah dunia. Namun demikian, Indonesia masih menghadapi tantangan dalam hal kualitas SDM, literasi, dan integrasi ekosistem, sehingga perlu penguatan untuk menjawab tantangan global sekaligus meningkatkan daya saing nasional.

      Direktur Eksekutif Departemen Ekonomi dan Keuangan Syariah (DEKS) Bank Indonesia, Dr. Dadang Muliawan, menegaskan bahwa Indonesia harus mampu memanfaatkan pertumbuhan ekonomi syariah global sebagai sumber baru penggerak ekonomi.

      “Kita harus memanfaatkan new area of economic development. Konsumsi global ekonomi syariah diproyeksikan meningkat signifikan, sehingga Indonesia perlu memperkuat ekosistem produksi yang kompetitif untuk pasar domestik dan ekspor dalam halal value chain,” ujarnya.

      Dr. Dadang juga menekankan pentingnya integrasi kebijakan dalam RPJMN dan Asta Cita pemerintah, agar ekonomi syariah tidak hanya meningkatkan pertumbuhan GDP, tetapi juga memperkuat inklusivitas dan pemerataan ekonomi.

      Dari sisi regulator, Deputi Komisioner Pengaturan Perizinan dan Pengendalian Kualitas OJK, Deden Firman Hendarsyah, menyoroti pentingnya pengembangan ekosistem sebagai kunci utama. Keuangan syariah Indonesia telah tumbuh sekitar 8,5% hingga awal 2026 dengan total aset menembus Rp3.000 triliun, namun tetap perlu akselerasi agar mampu bersaing di tingkat global.

      “Pengembangan ekonomi syariah harus berbasis ekosistem. Saat ini literasi keuangan syariah sudah mencapai sekitar 43%, namun inklusinya baru 13%. Artinya, pemahaman sudah ada, tetapi akses masih perlu diperluas,” jelasnya.

      Ketua Bidang Pengembangan SDM, Ekonomi dan Keuangan Syariah IAEI, Prof. Dr. Amalia, M.Ag., menilai Indonesia memiliki keunggulan dari sisi jumlah SDM. “Sebanyak 87% penduduk muslim dan bonus demografi menjadi kekuatan besar. Ditambah lebih dari 950 program studi ekonomi syariah, ini merupakan investasi SDM yang sangat strategis,” ungkapnya.

      Namun demikian, Prof. Euis Amalia menekankan bahwa peningkatan kualitas tetap diperlukan, terutama dalam penguasaan ekonomi digital dan sertifikasi berstandar internasional. Indonesia membutuhkan SDM yang tidak hanya mampu memproduksi, tetapi juga berinovasi agar menghasilkan produk halal yang kompetitif di pasar global, termasuk auditor halal yang berstandar internasional.

      Sementara itu, Ketua Bidang Komunikasi Strategis dan Kerja Sama Internasional IAEI, Prof. Dr. Murniati Mukhlisin, MAcc., CFP, menilai Indonesia unggul dari sisi ekosistem dan jumlah talenta. “Dengan lebih dari 950 program studi, Indonesia memiliki talent pool yang sangat besar. Ditambah ekosistem hexahelix antara akademisi, bisnis, pemerintah, media, komunitas, dan agregator, yang sangat lengkap,” jelasnya.

      Prof. Murniati menambahkan bahwa kekayaan data, riset, dan praktik ekonomi syariah di Indonesia menjadi keunggulan tersendiri dalam meningkatkan kualitas SDM.

      Penguatan ekonomi syariah Indonesia memerlukan sinergi erat antara digitalisasi, inklusi keuangan, dan kebijakan terintegrasi. Akses keuangan syariah didorong melalui layanan digital inovatif, diiringi kehadiran fisik untuk membangun kepercayaan. Penguatan fondasi dilakukan dengan strategi komprehensif, mencakup pengembangan sektor riil, sistem keuangan, literasi, serta integrasi instrumen syariah untuk pembiayaan pembangunan, UMKM, dan pesantren. Peningkatan literasi berbasis segmentasi penting untuk inklusivitas. Diperlukan kebijakan holistik dan terkoordinasi lintas sektor untuk akselerasi. Dengan konektivitas global, inovasi, produktivitas, dan kolaborasi, Indonesia optimis menjadi pemain utama kepemimpinan ekonomi syariah global demi mewujudkan Visi Indonesia Emas 2045.

      Berita Lainnya

      Lihat Semua Berita
      IAEI Meriahkan Zawa Funwalk dan ISEF Family Run 2025

      30 September 2025

      Buka Booth Pameran, IAEI Sosialisasikan Organisasi di ICIEF ke-15

      23 Februari 2024

      IAEI berkolaborasi dengan Pegadaian Ajak Mahasiswa Manado Menjadi Pengusaha dalam The Gade Sociopreneurship Challenge 

      28 Oktober 2024

      Musyawarah Wilayah ke-4 IAEI NTB: Dorong Wisata dan Industri Halal Mendunia

      23 Januari 2026

      Ikatan Ahli Ekonomi Islam Indonesia (IAEI)

      Gedung Dhanapala Lt. 2 Kementerian Keuangan Republik Indonesia, Jl. Dr. Wahidin No. 1, Senen Raya, Jakarta Pusat 10710

      [email protected]
      (021) 384 0059 WA +62851 6324 0059

      Situs Terkait

      Loading...

        Copyright © 2026 DPP IAEI - Dewan Pimpinan Pusat Ikatan Ahli Ekonomi Islam Indonesia. All rights reserved.

        FAQ Kebijakan Privasi