Dewan Pimpinan Pusat Ikatan Ahli Ekonomi Islam Indonesia (IAEI) menggelar Webinar Nasional bertajuk “Ready to Compete: SDM Ekonomi Syariah Indonesia di Tengah Persaingan Global” pada Selasa (1/9). Digelar secara virtual, kegiatan ini membahas tantangan dan strategi penguatan sumber daya manusia (SDM) ekonomi syariah agar mampu bersaing di tingkat global.
Prof. Euis Amalia selaku Ketua Bidang Pengembangan SDM Ekonomi dan Keuangan Syariah, menilai perkembangan ekonomi syariah Indonesia perlu diimbangi dengan kualitas SDM yang sesuai kebutuhan industri. “Industri keuangan syariah masih mengalami gap antara kualitas SDM dengan kebutuhan industri. Hanya sekitar 10 persen lulusan yang terserap oleh industri,” ujar Prof. Euis.
Menurutnya, SDM ekonomi syariah tidak cukup hanya menguasai fikih, tetapi juga membutuhkan soft skill, integritas, wawasan global, serta kemampuan membangun link and match antara perguruan tinggi dan industri.
Hal senada disampaikan Wakil Ketua Umum, Prof. Irfan Syauqi Beik, bahwa kualitas SDM menjadi salah satu faktor utama yang menentukan kemampuan Indonesia untuk menjadi pusat ekonomi syariah global. Ia mendorong pengembangan double competence, yaitu penguasaan keilmuan sekaligus kompetensi teknis yang sesuai dengan kebutuhan industri.
“Persoalan SDM yang kita hadapi bukan sekadar persoalan kurang edukasi, tapi juga bagaimana kita memiliki SDM yang mampu menjembatani pemahaman menjadi praktik di lapangan," jelas Prof. Irfan.
Webinar menghadirkan empat narasumber dengan perspektif yang saling melengkapi. Prof. Amilin, Komisioner BNSP, membahas pentingnya sertifikasi profesi sebagai jembatan antara pendidikan, industri, dan regulator, serta memperkuat daya saing sekaligus membuka mobilitas profesional ekonomi syariah lintas industri dan negara. Sementara itu, Alfatih Gessan Pananjung, Senior Lecturer/Manager di Bahrain Institute of Banking and Finance (BIBF), menekankan pentingnya kesiapan profesional menghadapi pasar global. Ia memperkenalkan empat kompetensi utama, yaitu pemahaman syariah, kemampuan teknis, keterampilan digital, serta komunikasi global.
Perspektif pendidikan menurut Prof. Mohammad Nur Rianto Al Arif, menilai kompetisi global kini menuntut kombinasi Islamic knowledge, finance, technology, sustainability, dan leadership, melalui perubahan pendidikan dari curriculum-centered menuju competency-centered. Sebagai penutup, Muhammad Imaduddin selaku Senior Risk Management Specialist di Islamic Development Bank (IsDB), membagikan pengalaman mengenai peluang karier di lembaga keuangan pembangunan internasional. Menurutnya, peluang karier di IsDB juga terbuka bagi talenta di bidang seperti data science, climate change, agriculture, dan public health.
Diskusi turut membahas langkah konkret yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kompetensi dan membuka peluang karier SDM ekonomi syariah di tingkat internasional. ‘Ready to compete’ bukan hanya tentang pertumbuhan industri ekonomi syariah, tetapi juga tentang kesiapan dan pengakuan terhadap kompetensi SDM yang menggerakkannya.
Melalui webinar ini, IAEI menegaskan komitmennya untuk terus mendorong penguatan ekosistem SDM ekonomi syariah agar Indonesia tidak hanya menjadi pasar yang besar, tetapi juga mampu melahirkan talenta yang siap membawa kompetensi Indonesia ke panggung global.



