Dewan Pimpinan Pusat Ikatan Ahli Ekonomi Islam Indonesia (IAEI) perkuat jaringan pengembangan ekonomi Islam di Jawa Timur dengan melantik Dewan Pimpinan Wilayah dan 48 Komisariat IAEI se-Jawa Timur untuk periode 2026–2031 di Universitas Negeri Surabaya, Kamis (27/8). Penguatan struktur organisasi tersebut diarahkan untuk memperluas literasi, meningkatkan inklusi keuangan syariah, serta memperkuat kolaborasi perguruan tinggi dan pesantren dalam pengembangan ekonomi syariah.
Ketua Umum IAEI yang juga Menteri Agama RI, Prof. Nasaruddin Umar, mengatakan bahwa pengembangan ekonomi syariah di Jawa Timur masih menghadapi tantangan berupa kesenjangan antara literasi dan inklusi keuangan syariah. Karena itu, ia menilai agenda literasi keuangan syariah perlu diarahkan dari sekadar meningkatkan kesadaran menjadi perubahan perilaku masyarakat.
“Kita harus membawa masyarakat dari knowing menjadi understanding, dari understanding menjadi doing, dan dari doing menjadi creating,” kata Prof. Nasaruddin.
Prof. Nasaruddin juga mendorong perguruan tinggi untuk memperkuat kontribusi dalam menghasilkan inovasi dan solusi ekonomi syariah yang dapat diterapkan di masyarakat. Jawa Timur dinilai memiliki modal besar untuk menjadi salah satu pusat pengembangan ekonomi syariah nasional, dengan memiliki sekitar 713 perguruan tinggi dan 7.347 pondok pesantren yang dapat menjadi kekuatan strategis dalam membangun ekosistem ekonomi syariah.
Melalui pelantikan, DPW IAEI Jawa Timur dan Komisariat diharapkan untuk memperkuat kolaborasi ekonomi syariah yang lebih nyata dan berdampak. Penguatan jaringan IAEI di Jawa Timur diharapkan dapat mempertemukan pendidikan, riset, pesantren, industri, kebijakan, dan pemberdayaan masyarakat dalam satu ekosistem ekonomi syariah yang semakin kuat.



-extra_small.jpg)